Cara Mencari Rejeki Uang, Kesehatan dan Kebahagiaan

          foto : satuw.com
Cara Mencari Rejeki Uang, Kesehatan dan Kebahagiaan

Apakah Tuhan sudah mengatur rejeki semua orang?? 

Menurut pendapat saya, bahwa Tuhan mengatur hukum-hukum yang berkaitan dengan rejeki semua orang berlaku universal. Tidak termasuk takaran dan bobot rejeki adalah di dalam kendali manusia sesuai dengan ketetapan. Rejeki halal atau haram, sedikit atau banyak adalah bagian dari kendali seseorang. Kalau korupsi uang dan makan makanan haram, maka kita akan tanggung resiko.

Tidak peduli mau orangnya rajin sholat atau tidak, agamanya apa saja, beragama atau tidak. Sepanjang mengikuti ketentuan hukum yang berlaku soal rejeki, maka dia berhak memperoleh rejeki sesuai keinginannya.

Takaran rejeki manusia yang tentukan. Mau ambil sedikit atau banyak. Aneh, kalau kita rajin beribadah lalu berpikir kenapa rejeki saya kurang? sedangkan penjahat malah takaran rejekinya banyak? berarti Tuhan tidak adil dong sesuai prasangka kita. Padahal kita yang kurang paham mungkin soal hukum.

Seperti siang dan malam, hujan turun, matahari bersinar siang hari, kelahiran dan kematian demikian hukum yang telah ditetapkan. Tuhan menurunkan hujan sebagai hukum yang ditetapkan, tapi manusia menciptakan banjir dan hujan asam sebagai suatu takaran.

Maka kita diperintahkan untuk bekerja dan berikhtiar sesuai hukum rejeki yang berlaku.

Seorang programmer menjual skillnya untuk satu proyek 100juta. Sedangkan seorang tukang cukur menjual skillnya 20ribu untuk satu kepala. Perbedaan harga jual bukan karena ketidakadilan hukum Tuhan, tapi itu bobot dan takaran manusia. 

Pokok persoalan mendasar mengapa di negeri kita banyak yang tetap pasrah hidup di bawah garis kekurangan kualitas hidup dan materi. Padahal sumber daya alam kita melimpah ruah, malah orang asing yang kaya raya dan bahagia. Karena orang asing mengerti soal hukum rejeki yang Tuhan tetapkan dan berlaku universal tanpa pilih pilah. Kadang kita memahami takdir dan rejeki yang tidak total alias sepotong-sepotong, sehingga belum apa-apa sudah menyerah, pasrah dan putus asa mengenai rejeki. Padahal kesempatan untuk memperbaiki nasib masih panjang. Rejeki tidak boleh patokannya cuma uang, jauh lebih penting adalah kesehatan.

Author/Editor: Adiansyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Uang Mengejar Kita

5 Dampak Negatif Kebiasaan Berhutang

Tips Agar Charger Hp Awet