Cara menghadapi Inflasi Bagi Keluarga

  Ft: satuw.com

Cara menghadapi Inflasi Bagi Keluarga

Inflasi membuat banyak orang kesusahan karena nilai mata uang selalu merosot turun dari harga barang setiap hari di seluruh dunia. Khusus di negara kita inflasi susah sekali ditekan dan dikontrol. Yang dulunya uang Rp 1 -100 masih berlaku sekarang uang Rp. 1.000 saja sudah sangat jarang dipakai. Ini membuktikan bahwa ekonomi makin sulit akibat inflasi. Banyak orang bingung bekerja dengan gaji minimal sedangkan harga barang selalu naik, sehingga sulit untuk mencapai kesejahteraan hidup. Kalau barang hasil pertanian sering mengalami naik turun, tapi kalau barang kemasan produksi industri pasti naik terus tidak pernah turun.


1. Berhemat
Dengan berhemat bisa menjadi sedikit solusi dalam keluarga. Mungkin kita sudah bosan mendengar peringatan dan anjuran untuk berhemat dalam beberapa kondisi ekonomi dan keuangan. Tapi sikap perilaku hemat selalu dibutuhkan karena memiliki peran penting dalam kehidupan. Jangan tunggu kaya dulu baru berhemat atau tunggu miskin dulu baru berhemat. Halah, hemat itu kuno, jaman sekarang mana bisa hemat, semua serba mahal. Demikian celoteh beberapa orang. Sikap perilaku boros justru mendatangkan kesengsaraan hidup. Tiap hari ganti sendal baru, baju baru, hp baru, kalau bisa pakai yang lama kenapa tidak. Padahal harga barang kebutuhan pokok makin naik tidak pernah turun, sedangkan kita belanja tidak pakai mikir-mikir. Kalau kebutuhan yang makin mahal tidak pernah disikapi secara hemat, maka hancurlah keuangan dan ekonomi keluarga. Inflasi kian hari mengancam hidup, sementara gaji penghasilan begitu-begitu saja, tentu tidaklah cukup. Malah sekarang banyak orang mengeluh bahwa uang 100rb sudah tidak ada nilainya, jika dibelanjakan hanya dapat beberapa porsi makanan yang sedikit. Hemat pangkal kaya tidak lah salah, tapi boros pangkal miskin sungguh benar adanya.


2. Bekerja Lebih Giat
Jika kebutuhan pokok makin naik, maka tentu penghasilan yang pas-pasan perlu ditingkatkan. Jika penghasilan harian 50rb dan biaya hidup 100rb, maka perlu giat bekerja supaya dapat penghasilan 100rb. Biaya hidup makin hari naik tidak pernah turun, sehingga bekerja juga makin giat. Memang membingungkan apalagi bila hidup di perkotaan yang semua serba beli dan biaya. Dengan bekerja yang giat bisa jadi memiliki banyak sumber penghasilan dengan nominal besar sehingga inflasi yang selalu tinggi tetap bisa dihadapi dengan santai dan mudah.

3. Mengubah Kebiasaan

Kebiasaan buruk yang menguras keuangan perlu dikurangi atau dihilangkan saja. Biaya hidup makin mahal memaksa kita mengambil kebijakan yang terbaik. Misalnya kebiasaan merokok dan minum-minum keras serta main judi yang sangat menguras penghasilan dan tabungan kita. Lebih baik uang untuk rokok ditabung atau diinvestasikan daripada dihabiskan untuk hal yang tak bermanfaat. Kebiasaan ngemil berlebihan juga berpengaruh terhadap keuangan. Jangan lupa untuk mengurangi jalan-jalan ke Mall juga. Dengan demikian bila kebiasaan buruk sudah ditinggalkan akan sangat santai menghadapi inflasi bahkan resesi ekonomi sekalipun. Kita tidak akan susah dan kaget, walaupun kondisi yang susah.

4. Barter
Kalau umpama kita menanam sayuran dan beternak bisa dijual untuk mendapatkan uang atau bisa juga dibarter. Telur ayam bisa ditukar sabun dan minyak goreng, daging ayam bisa ditukar beberapa kebutuhan sembako. Barter merupakan transaksi ekonomi yang mungkin dan terbaik saat inflasi makin tinggi dan krisis ekonomi parah. Orang jaman dulu senang melakukan barter, kalau sekarang juga ada. Tetapi pastikan dulu apa yang mau dijadikan sumber barter. Misalnya dengan bekerja sambil beternak atau berkebun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Uang Mengejar Kita

5 Dampak Negatif Kebiasaan Berhutang

Tips Agar Charger Hp Awet